Kamis, 21 Maret 2013

Masjid Dian Al-Mahri ( Kubah Emas ), Depok, Jawa Barat, Indonesia

Masjid Dian Al Mahri dikenal juga dengan nama Masjid Kubah Emas adalah sebuah masjid yang dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo, Depok di Kecamatan Limo, Depok. Masjid ini selain sebagai menjadi tempat ibadah salat bagi umat muslim sehari-hari, kompleks masjid ini juga menjadi kawasan wisata keluarga dan menarik perhatian banyak orang karena kubah-kubahnya yang dibuat dari emas. Selain itu karena luasnya area yang ada dan bebas diakses untuk umum, sehingga tempat ini sering menjadi tujuan liburan keluarga atau hanya sekedar dijadikan tempat beristirahat.


Sejarah
Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu. Dengan luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara

Arsitektur
Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton
Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.
Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.
Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.
Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia



Selasa, 26 Februari 2013

Dieng Plateau, Kab. Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang berada di antara kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah - Indonesia dan juga diantara Gunung Sindoro dan gunung Sumbing.
Untuk menuju dieng bisa dari arah Yogyakarta dan dari arah Semarang, menuju arah kabupaten Wonosobo kemudian diteruskan ke arah Dieng. Di jalan menuju Dieng, ada obyek yang layak dikunjungi, yaitu Telaga Menjer.
Setelah itu akan ada obyek Gardu Pandang Dieng dan Tuk Bimo Lukar. Air dari Tuk atau sumber air ini di percaya dapat membuat awet muda bagi yang membasuh muka atau mandi..wuihh...:-D
Obyek wisata yang paling dekat dengan lokasi pemberhentian bus di Dieng adalah komplek candi Arjuno. Di sini dapat dilihat candi Arjuno, Candi Puntodewo, Candi Srikandi, Candi Sembodro dan Candi Gatotkaca.
Berdekatan dengan komplek candi Arjuna adalah Museum Dieng 'Kailasa'. Tempat ini berisi informasi mengenai candi yang ada di Dieng, dari sejarah awal mula sampai perkembangan terkini.
Kawah Sikidang adalah obyek selanjutnya. Disebut sikidang ( ind: kijang ), karena kawahnya yang selalu berpindah-pindah atau melompat-lompat seperti kidang ( kijang ).

Selanjutnya kita menuju Telaga Warna. Telaga ini mempunyai keunikan yaitu warna air telaga nya selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan kandungan mineral yang ada di dasar telaga, dan ketika terkena sinar matahari akan memantulkan cahaya yang berwarna warni...sangat indah.........:-)
Satu lokasi dengan telaga warna ada banyak obyek Wisata Goa. Bagi yang suka kegiatan Supranatural, kayaknya tempat ini layak dikunjungi..:-D
tetapi bagi yang tidak suka supranaturalpun diperbolehkan mengunjungi koq...:-) .Ada yang namanya goa pengantin, goa semar dll.
Tujuan selanjutnya adalah Dieng Plateau Theater. Tempat ini merupakan theater yang memutar film mengenai  daerah dataran tinggi Dieng, dari letak geografisnya, sejarah terbentuknya dataran tinggi ini dan kawah-kawah yang masih berbahaya di daerah ini. Kemudian dijelaskan pula mengenai kebudayaan yang masih eksis hingga saat ini.
Hal menarik lainnya akan kita temukan pada esok paginya, yaitu pemandangan Sun rise di bukit Sikunir.  Untuk mendapatkan keindahan ini, kita harus rela bangun pagi-pagi, berangkat dini hari dan mendaki bukit Sikunir. Lumayan lah untuk membuat nafas ngos2an....:-D
Ketika menuju bukit Sikunir, kita akan melewati Desa Sembungan yang merupakan desa yang letaknya tertinggi di pulau Jawa.
Kawah Sileri, Sumur Jalatunda dan Kawah Candradimuka adalah obyek yang menjadi tujuan selanjutnya. Dari kawah Candradimuka, hari sudah sore berarti saatnya harus balik ke Semarang. Meskipun belum semua obyek dapat dikunjungi, tapi sudah cukup membuat refresh... ( meskipun badan cukup capek.....:-D )





Sabtu, 26 Januari 2013

Goa Kreo, Gunung Pati - Semarang, Jawa Tengah


Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang.
Setelah dibangunnya Waduk Jatibarang seluas 46,56 hektar, yang berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum, dan sebagai pembangkit tenaga listrik,  maka kawasan wisata goa kreo ini menjadi berada di tengah-tengah waduk, seperti pulau Samosir di tengah danau Toba ( Sumatra Utara ) atau seperti Gunung Kemukus di tengah waduk Kedung Ombo ( Jawa Tengah ).  
Untuk mencapai lokasi wisata ini
1.  Dari Semarang ( dari arah Kalibanteng, dari arah Sam Poo Kong, dari arah Mijen/Boja ), anda dapat naik angkot warna orange atau bis jurusan gunung pati atau Bus Rapit Transit ( BRT ) Koridor III , turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki ( apabila ingin menikmati keindahan alam nya )
2.   Dari Ungaran atau dari Arah Cangikiran, naik bis jurusan semarang via gunung pati, turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki

Sejarah
Legenda Goa Kreo 
Konon Legenda Gua Kreo tak terpisahkan dengan legenda asal mula nama Jatingaleh, sebuah kelurahan di lereng Bukit Gombel, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Dikisahkan, dahulu seorang wali yang punya kemampuan lebih, seperti Sunan Kalijaga, dapat berkomunikasi dengan tumbuhan dan binatang. Bahkan, ada pula pohon-pohon yang dipercaya bisa berpindah tempat.
Menurut legenda, kayu jati yang akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak, adalah potongan kayu dari pohon jati yang berada di lereng Bukit Gombel. Ajaibnya, sewaktu Sunan Kalijaga akan mengambil kayu jati di kawasan tersebut, ternyata pohon jati itu sudah tidak ada.
Sunan Kalijaga kemudian mencari ke mana pohon jati itu berpindah. Dia terus mencari sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Sedangkan tempat asal pohon jati itu kemudian diberi nama Jatingaleh (bahasa Jawa) yang artinya ”jati berpindah”.

Akhirnya Sunan Kalijaga menemukan kayu jati yang berpindah itu, tetapi berada di tempat yang sulit untuk diambil. Dia kemudian bersamadi di dekat sebuah gua, hingga datang empat ekor kera, masing-masing berbulu merah, kuning, putih, dan hitam. Kera-kera itu menyampaikan niat baik ingin membantu Sunan Kalijaga mengambil kayu jati yang diinginkan. Sunan Kalijaga menerima bantuan mereka dengan senang hati, akhirnya kayu jati itu berhasil diambil dari tempat yang suliSaat Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Kerajaan Demak untuk dibuat saka guru Masjid Agung Demak, keempat kera itu menyatakan ingin ikut serta. Karena mereka bukan manusia, Sunan Kalijaga keberatan. Namun sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ( jawa : ngreho ) yang berarti ”memihara” atau ”menjaga”. Dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal, dan sejak itu kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai pemelihara atau penjaga.
Sampai sekarang, Gua Kreo yang terletak di lereng Bukit Kreo, termasuk objek paling favorit yang didatangi pengunjung. Kedalaman gua mencapai 25 meter dari mulut goa. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, ada lagi sebuah gua bernama Gua Landak.
Gua Landak kedalamannya 30 meter. Tapi gua ini dibuat oleh pengelola Gua Kreo, bukan goa alami.
Jika pengunjung mempunyai keberanian, bisa menjajal memasuki goa ini untuk sekedar merasakan udara dingin dan lembab.
Setelah puas menelusuri goa, pengunjung bisa berjalan ke atas puncak Bukit Kreo. Disana pengunjung dapat menemukan monumen batu. Menurut masyarakat sekitar, monumen tersebut dibuat sebagai ‘tetenger’ kalau Sunan Kalijaga pernah menjejakkan kaki di Bukit Kreo.

Sejarah Gunung Pati
Nama Gunungpati diberikan oleh Kiai Pati, seorang prajurit dari Pati, yang membuka daerah ini. Gunung merujuk pada topografi wilayah ini, sementara Pati diambil dari namanya sendiri
Gunungpati pernah menjadi sebuah kabupaten. Hal itu dapat dibuktikan dari masih adanya dua pohon asam di tengah Alun-alun, sekitar 50 tahun lalu. Bahkan sampai sekarang, kita masih bisa menjumpai Kampung Ngabean, Pasar Kliwonan, Jagalan, dan Kauman di sekitar masjid, serta sebuah penjara bernama Sikrangkreng.
Di masa revolusi, Gunungpati adalah wilayah setenan dari asisten wedana wilayah Kawedanan Ungaran. Julukan bagi kepala pemerintahan Gunungpati adalah Pak Seten. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, wilayah Gunungpati menjadi bagian integral dari NKRI. Penduduk setempat ikut bergerilya melawan tentara penjajahan. Mereka membangun dapur umum secara sukarela, di sebuah rumah dekat makam Kiai Pati.
Status Gunungpati kemudian berubah dari kawedanan menjadi kecamatan di Kabupaten Semarang, tetapi pada pertengahan tahun 1980-an diminta bergabung dengan Kota Semarang

Flora dan Fauna
Karena Goa Kreo berlokasi di dataran rendah, untuk mencapai mulut goa pengunjung diharuskan menuruni anak tangga yang cukup banyak. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5 ribu per orang, pengunjung dapat meneruskan perjalanan menuju goa melalui anak tangga menurun yang lebar-lebar. Disitu pengunjung akan disambut dengan sekelompok kera atau monyet berbuntut panjang. Sepanjang perjalanan menuju goa, pengunjung akan diikuti oleh kera-kera yang jinak. Bahkan pengunjung bisa ikut memberi makan kera-kera tersebut. Asal saat membawa makanan jangan pakai kantong yang ditenteng karena si monyet akan merebut bawaan yang kita bawa. Disamping kanan dan kiri anak tangga banyak pepohonan tumbuh sehingga perjalanan menuju goa akan terasa sejuk.
Goa Kreo menyuguhkan keindahan gua yang masih alami. Pepohonan, udara sejuk dan kawanan monyet akan menyambut saat kita memasuki kawasan Goa Kreo. Wisata goa ini banyak menarik wisatawan domestik. Pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan goa tapi juga hamparan sawah karena sekeliling goa masih terdapat sawah yang luas
Monyet monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), jenis yang sama dengan yang ada di Batu Cave, Malaysia. Monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo.
Di kawasan ini terdapat tebing dan jurang terjal yang bisa disaksikan dari mulut goa. Di bawahnya berkelok-kelok Sungai Kreo. Dari mulut goa perjalanan bisa dilanjutkan menuju air terjun dengan anak tangga yang berkelok-kelok juga dan menyempit. Anak tangga menuju ke air terjun sangat terjal. Apabila membawa seorang anak kecil lebih baik digendong. Air terjun setinggi 25 m tak henti mengalirkan air yang jernih masuk ke sungai dengan kondisi yang masih alami. Berbagai bebatuan dengan ukuran kecil hingga besar berserakan di Sunga Kreo yang mengalir di bawah air terjun.

Acara Tahunan
Setiap tahun di Goa Kreo diadakan tradisi kirab sesaji Rewanda dan napak tilas Sunan Kalijaga yang dilaksanakan masyarakat sekitar Goa Kreo. Kirab sesaji hasil bumi yang disusun menjadi tumpeng buah-buahan untuk makanan kera, tumpeng nasi dan replika kayu jati tiang Masjid Demak dikirab oleh warga masyarakat menuju pelataran parkir Goa Kreo. Kemeriahan tradisi ini melibatkan seluruh warga baik tua maupun muda. Dan tidak hanya menarik wisatawan lokal tetapi juga wisatawan mancanegara.

Sumber data dan Photo : ekowisataku.blogspot.com, suaramerdeka.com, visitsemarang.com , seputarsemarang.com